Cinta itu merelakan tapi tak melupakan
Hampir semua murid baru memanfaatkan waktu senggang sebelum upacara penyambutan siswa baru dimulai untuk mencoba mempromosikan dirinya, ada yang mencoba berbasa-basi sambil berusaha menarik perhatian lawan bicaranya, ada pula yang tanpa malu-malu dan tanpa berpikir panjang langsung menghampiri wanita yang dianggapnya paling bening di antara sekian banyak wanita di tanah lapang ini. Dan yang membuatku kaget, wanita itu juga menanggapi dengan cukup serius apa yang dibicarakan lelaki tadi. Sungguh suatu kelebihan yang sangat luar biasa, dengan sedikit jurus buaya satu wanita langsung terpana. Tapi tak satupun dari mereka semua (yang mencoba mendekati wanita) kuhargai, jujur aku sangat benci dengan kelakuan mereka yang seenaknya memanfaatkan kata-kata untuk membuat lawan jenisnya jatuh ke dalam pelukan. Walaupun setiap wanita membutuhkan perhatian tapi bukan perhatian seperti itu yang mereka inginkan, kuharap wanita-wanita itu tak akan pernah merasakan sakit karena jatuh terjerembab ke dalam lubang kebohongan pria. Itulah kelemahan wanita, mudah mendapatkan tapi mudah pula melupakan.
Aku masih tetap berdiri sendiri di bawah cahaya matahari yang sudah mulai menyengat, menunggu waktu upacara ini dimulai.
Tiba saatnya pembagian kelas, ternyata aku masih memiliki sedikit keberuntungan, di sana aku mengenal beberapa wajah-wajah yang cukup tak asing. Beberapa teman-teman semasa SMP dulu juga masuk ke dalam kelas ini, semoga ini yang dapat sedikit mengobati kesepianku karena selama ini aku telah terlalu akrab dengan kesepian dan kehampaan. Tapi ternyata tetap saja aku masih diam dengan segala kebisuan ini, membuatku tak merasakan sedikitpun kenyamanan. Tapi dalam kebisuanku ini aku menemukan diriku yang kembali mengarungi masa laluku. Saat pertama kali aku berusaha mencintai sesuatu yang membuatku sangat terobsesi, untuk memiliki, untuk dicintai, untuk disayangi, dan tanpa berbagi apapun dengan orang lain. Itulah ego dari manusia, tak memikirkan apapun selain kenyamanan diri sendiri. Memang dulu aku pernah mencintai seorang wanita, yang senantiasa kuanggap sangat cantik dan sangat manis. Dengan segala kemampuanku memainkan kata-kata, kuungkapkan perasaan itu, kuberanikan diriku untuk mengutarakan semua yang kumiliki di dalam hati, otak, maupun jiwaku. Tapi keberanian itu hanyalah sebatas rangkaian tinta-tinta kenangan yang kutulis di atas kertas putih karena memang sampai saat ini tak ada yang dapat membantu memunculkan kata-kata cinta dari mulutku. Kebiasaan menulis isi hati itu terus saja berlanjut sampai suatu titik di mana aku memutar pengharapanku 180˚, di saat itu aku menemukan diriku memang sudah tak berpengharapan lagi. Kebahagiaan yang kudambakan akan datang jika aku mencintai walaupun memang tanpa balasan tetap tak muncul-muncul juga. Dan akhirnya kulalui semua masa-masa lalu itu dengan mencoba melupakan, melupakan, dan melupakan.
Kehampaan dan kesepian tetap saja mengikatku dan masih saja aku sangat sulit untuk dapat melupakan masa lalu. Tapi aku cukup senang karena setidaknya kehampaan dan kesepian ini telah setia merangkul dan menemaniku selama kurang lebih 1 tahun ini. Kadang kala kehampaan dan kesepian ini membuatku merasakan kesakitan yang sangat mendalam. Ketika kulihat orang lain sedang bermesraan, mencoba merajut dan memupuk kebersamaan dengan pasangannya. Apa yang kupikirkan, betapa bodohnya mereka, terlalu egois memamerkan bahkan menghidangkan menu-menu romantis ala opera-opera sabun padahal di depan mereka berdiri seorang pria yang sangat kesepian dan membutuhkan kebenaran dan kejelasan dari makna cinta yang sebenarnya. Atau mungkin mereka sengaja melakukan semua itu hanya untuk mendapat pengakuan bahwa pasangan kekasih yang romantis sedang ada di ruangan ini. Oh, sungguh sesuatu yang sangat-sangat memuakkan.
Ternyata perasaan cinta kembali datang dan berusaha merebut tempat kesepian maupun kehampaan di dalam diriku. Namun muncul suatu pemikiran dalam hatiku, apakah aku telah siap untuk terluka kembali. Karena ada keyakinan dalam hati ini, pasti sesuatu yang buruk akan menimpaku jika aku benar-benar mau memulai lagi memperjuangkan perasaan ini.
Pagi hari 9 September 2003 tepatnya pukul 08.00, aku, ahmad, dhita, dkk berencana untuk bermain basket di UGM. Aku pergi dengan keyakinan bahwa aku dapat mengalahkan kegelapan dalam hatiku. Ya, berusaha menghilangkan kejelekan sifatku dengan mencoba bergaul dengan teman-teman. Namun saat kucoba untuk terbuka, nyatanya hanya kepenatan lagi yang merasukiku, tak satupun kesenangan kudapatkan. Aku tak mengerti apakah aku yang memang terlalu aneh atau mereka yang terlalu bebas mengekspresikan sikap mereka, aku rasakan semuanya menghujamku dengan kedekatan mereka, saling bermesraan menonjolkan keromantisan, bahkan bukan pada pasangannya. Tapi dalam keadaan yang membosankan itu akhirnya ada sesuatu yang membuatku merasakan kejernihan hati muncul lagi. Seorang wanita tepatnya gadis manis dan anggun yang selama ini tak pernah kujumpai.
Mataku tampaknya mampu bergerak tanpa menunggu perintah tuannya. Selalu kucoba untuk menatapnya, berusaha mencari jawaban dari kejernihan yang muncul ini. Selalu kucoba untuk tak mengusiknya, agar dia tak pergi menjauh karena muncul rasa takut yang menjangkit. Dan selalu kucoba untuk tersenyum padanya, meskipun untuk menggerakkan pipiku sedikit ke atas saja terasa sangat sulit. Namun kucoba, kucoba, kucoba, dan terus kucoba walaupun hati, perasaan, maupun jiwa ini mengingkari keberanian di diriku.
Saat sedang beristirahat setelah permainan basket selesai, kutatap dirinya. Merasakan keindahan gadis ciptaan Tuhan ini, menikmati karunia sepasang mata ini yang dapat kumanfaatkan untuk menatap kecantikan alaminya. Kutanya lagi diriku sendiri, apakah aku benar-benar ingin memilihnya, apakah aku tak salah memilih, karena aku ragu dia akan membalas cintaku. Dia memang manusia sepertiku tapi dia sangat indah, manis, cantik, anggun, dan segala hal yang mewakili kesempurnaan. Kemudian muncullah pertanyaan yang sangat prinsipil, siapakah gadis itu? Wajahnya terasa sangat asing bagiku, yakin aku belum pernah melihatnya.
Saat kegaluhan dalam otakku sudah mulai memuncak, ada lagi sebuah pencerahan yang tak masuk akal. Ternyata gadis itu satu SMA denganku, dia adalah siswi kelas IC yang dulu bersekolah di SMP I. Betapa bodohnya aku, gadis cantik, manis, dan seanggun itu sampai tak kukenal. Kuyakin dia memang benar-benar tipe wanita idamanku atau mungkin idaman setiap pria karena kecantikannya tak berujung pada kesombongan justru kepolosanlah yang muncul dari paras cantiknya.
Namun lagi-lagi keegoisanku kembali muncul, sesampainya di rumah hal yang pertama kali kulakukan adalah mencari secarik kertas dan pulpen untuk membantu jari-jariku menari, kembali menuliskan semua keajaiban dan keberuntungan yang kudapatkan. Sebenarnya aku malu dan sangat merasakan penyesalan jika selalu ini saja yang kulakukan, apakah hanya ini yang sanggup kulakukan ataukah memang ini tujuanku, hanya selalu menjadi secret admirer. Apakah dengan yang kulakukan ini dapat membuatku kembali bersinar lagi, dapat memunculkan kebahagiaan yang dulu sudah benar-benar hilang menjauh.
Kuakui selama ini cintaku hanya selalu dipenuhi oleh kebencian akan diriku sendiri. Aku benci karena tak mampu mendekati gadis yang kucintai, aku benci karena hanya sebatas menulis kata-kata tak berarti ini yang kubisa, aku benci pada keputusasaan ini, dan yang terpenting adalah aku benci karena dia terlalu sempurna untuk kucintai dan mencintaiku. Sampai kapanpun kuyakin tak akan pernah kutemukan solusi untuk masalah ini. Jika bukan aku yang merubah sikapku pasti tak akan pernah kutemukan jalan terbaik untuk perasaanku, memang terdengar terlalu egois tapi memang itulah sifatku, keegoisan itu tak dapat lenyap dari jiwaku. Bahkan mungkin tak kuijinkan siapapun berbagi cinta denganku jadi selama ini kuusahakan untuk memendam semua cinta yang kumiliki. Mungkin hingga sampai pada saatnya kutemukan seorang gadis yang bisa membuka mulutku untuk mengatakan cinta, baru akan kubagi cintaku ini.
Yakinkah diriku ini akan perasaan yang kumiliki ataukah ini semua hanyalah cinta pada pandangan pertama saja yang dengan mudah hilang setelah kita menemukan sosok lain yang lebih. Aku benar-benar tak bisa meyakinkan diriku, tak tahu apakah aku takut merasakan cinta lagi ataukah aku takut merasakan kepedihan lagi. Sanggupkah aku memunculkan lagi keberanian yang telah lama terkubur di dalam tumpukkan berbagai keputusasaan.
Aku benar-benar merasakan hidup ini sama sekali tak menyenangkan, merasakan cinta yang begitu dalam tapi tak mampu mengungkapkan. Bagaimana kelanjutan sikapku, apakah aku akan terus-menerus menjadi lelaki yang sangat takut untuk mengatakan cinta. Sebenarnya sudah kucoba untuk mengumpulkan keberanian yang kutuju untuk menggapainya namun sama saja, sama sekali tak ada gunanya. Aku hanya berani memandangnya dari kejauhan, memang bisa kunikmati kecantikan wajahnya tapi tak pernah kurasakan kebahagiaan. Beberapa minggu kucoba untuk merangkai kata-kata demi mewujudkan keinginanku untuk mendekatinya, dalam secarik kertas kutulis apa yang akan kukatakan. Ucapan salam, mencoba bertanya tentang segala hal, memang sepertinya mudah jika hanya menulis tapi dalam realisasinya sangatlah sulit.
Pagi hari saat aku tiba di gerbang depan sekolah, pertama kali ku tengok kanan-kiri mencoba mencari sosoknya, tak kutemukan. Saat kuparkir motorku di tempat parkir belakang 2D, tepat di belakang kelasnya, kucoba lagi menengok dari jendela yang kulihat hanyalah satu ruangan kosong tanpa penghuni. Saat itu mulutku benar-benar ingin mengucapkan sepenggal kalimat padanya, sembari berharap untuk memulai percakapan yang sangat kuimpikan. Sepertinya hanya sekedar percakapan biasa tapi sangat berarti bagiku, kubayangkan dengan menatap wajahnya saja bisa membuatku bahagia apalagi dengan mendengarnya berbicara pasti bisa memunculkan lagi keberanianku. Akhirnya pagi itu berakhir seperti biasanya, tanpa sesuatu yang bisa dikenang sama seperti hari-hariku lainnya, terlalu pasif tak ada yang dapat dijadikan kenangan.
Ya, lalu aku masuk ke dalam lokasi sekolah. Melewati lorong di antara deretan kelas-kelas, kuakui tempat itu cukup gelap dan saat itu aku sempat membayangkan pula, betapa nikmatnya berjalan menyusuri lorong itu berdampingan dengan Sari. Sungguh sesuatu yang pastinya sangat menyenangkan, mencoba mengenalnya lebih jauh, mencoba berbicara dengannya, dan yang paling penting mencuri-curi pandang kecantikannya sambil mengantarnya memasuki kelas 2D yang berada tepat di samping lorong tapi sayang semuanya hanyalah khayalan belaka. Aku memang sangat sering berkhayal bahkan sangat membutuhkan khayalan karena dengan khayalan itu aku dapat benar-benar merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Mengkhayalkan aku dan dia berjalan menyusuri lorong itu dengan langkah yang sedikit pelan dan berat karena ingin merasakan kenikmatan ini lebih lama, dia dengan sengaja menyandarkan kepalanya di bahuku, mencoba merasakan kenyamanan sebagai sepasang kekasih. Sungguh sangat kunikmati khayalan itu walaupun aku tak akan pernah merasakan semua itu dalam kehidupan nyata tapi setidaknya ada rangkaian khayalan yang selalu membantuku untuk tetap tersenyum.
Seseorang siapapun itu tolong beri aku sebuah kejelasan. Aku ragu apakah ini disebut cinta atau hanya rasa tertarik biasa. Aku tak pernah tahu bagaimana sebenarnya cinta itu, jika hanya mengisi sebuah buku kosong dengan guratan-guratan tinta, membentuk kata-perkata yang menggambarkan apa yang ada di hati dan otakku, apakah bisa disebut dengan cinta.
Malam harinya tetap sama, kulalui malam itu hanya dengan menulis dan menulis. Kuakui sebenarnya kalimat-kalimat ini sama sekali tak ada artinya tapi ada suatu hal yang membuatku terus-menerus melanjutkan tulisan ini. Motivasi yang tak akan pernah kumengerti. Tak dapat kuhitung lagi berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk menulis jurnal ini, berapa banyak puntung rokok yang kuhisap hanya untuk mencoba merapihkan lagi rangkaian kata-kata di dalam otakku.
Pagi hari 13 September 2003, keinginan untuk mendekatinya benar-benar telah berada dalam puncak otakku. Kudengar akan ada acara lomba baris-berbaris di halaman depan Balai Kota. Di sanalah aku akan mencoba mendekatinya, untuk pertama kalinya pemikiran yang ada di dalam otakku membantu kelanjutan cintaku. Hampir sama seperti yang kulakukan dulu, merangkai kata-kata yang akan kukatakan besok. Sembari berharap konsep ini akan mengantarku menjadi seorang lelaki yang berani meraih gadisnya. Semuanya kurangkai dalam sepotong kertas kecil, hampir sama seperti contekan yang dibuat oleh murid-murid SMA ketika menghadapi ujian. Kata perkata kutulis, ucapan salam, kalimat-kalimat yang menanyakan keadaan hari ini, pokoknya semua percakapan.
14 September 2003, jam 8 pagi aku sampai di depan 4B dan di sana yang kutemui hanyalah seorang penjaga sekolah yang sedang membersihkan halaman sekolah. Sepertinya takdir sedang memusuhiku atau justru sedang menantangku untuk menunjukkan keoptimisanku. Langsung saja kupacu motorku menuju Balai Kota meskipun aku tak benar-benar mengetahui letaknya tetap kupacu motorku untuk meraih tujuan awalku. Akhirnya aku sampai juga tepat di depan Balai Kota tapi kebimbangan sedikit demi sedikit mulai mendekatiku, pastinya mencoba meraih keberanian yang telah kususun sejak tadi malam. Sangat sakit rasanya, dalam hatiku sangat menginginkan berjumpa dengannya tapi akal sehatku melarang, mengajakku untuk menjauh karena dengan penuh keyakinan mengatakan padaku kalau aku bukanlah lelaki yang sanggup menyaingi kesempurnaan yang Sari miliki. Aku bisa mendengarnya bahkan sangat jelas. Kalimat-kalimat ejekan itu mengelilingiku, membuatku merasa sangat kecil dan sangat tak berguna bahkan membuatku bukan main pening.
Dan benar saja, aku langsung membalikan badanku berusaha dengan sekuat tenaga meraih motor dan berusaha memacunya menjauhi balai kota. Tapi saat itu dengan tak sengaja aku berpapasan dengan salah satu teman Sari dan dengan tanpa banyak basa-basi dia mengajakku masuk menuju basecamp yang ditempati anak-anak Tonti (Pleton Inti) 4B. Saat itu juga aku sangat takut sekaligus gembira mungkin, pastinya aku tak tahu apa yang kurasakan sebenarnya. Tetapi yang mendominasi dari semuanya adalah rasa takut untuk berada dekat dengannya. Aku sangat yakin aku mencintainya tapi aku sama sekali tak memiliki keyakinan untuk berani mendekatinya.
Akhirnya sampai juga di depan basecamp 4B, saat berjalan mendekati teman-temanku tiba-tiba langkahku terhenti dengan agak berat kutengokkan kepalaku ke samping kanan. Saat itu juga aku merasakan keraguan, ketakutan, dan segala hal negatif yang merasuki diriku. Wajah yang sangat kukenal, ya, wajah dari gadis yang kucintai. Secara tak sengaja aku dan dia bisa saling memandang, mata kami bisa saling bertemu, aku rasa momen itu berlangsung cukup lama, mungkin sekitar 5 detik. Sebenarnya saat itu aku sangat ingin memalingkan pandanganku jauh dari dirinya tapi keinginan itu terkalahkan oleh satu momen yang sangat tak disengaja. Tapi saat itu aku sungguh merasa sangat beruntung, aku telah merasa cukup jika momen itu bisa selalu terjadi. Aku yakin tak akan membutuhkan pengharapan akan cinta lagi jika bisa selalu mengalami momen itu.
Saat itu juga aku langsung bisa melupakan tujuan awalku untuk mencoba mendekatinya atau dengan kata lain ber-pdkt. Ya, memang sepertinya ini sudah cukup bagiku, sudah cukup memberi kesejukan yang selama ini kuharapkan datang untuk mencairkan segala kemarahan yang selalu saja tertanam di hatiku. Namun apakah aku tak mau mencoba sekali saja untuk mendekatinya, apakah aku tak mau mengambil kesempatan yang tersedia ini. Tampaknya kenekadanku kembali membantu, tanpa perlu berpikir panjang lagi kudekati dia. Walaupun mencoba mendekat, tetap masih ada jarak antara kami berdua. Jarak yang cukup jauh untuk mencoba berbicara, jika hanya sekedar mencuri pandang aku masih bisa leluasa melakukannya. Saat aku mencoba melangkah lebih dekat tiba-tiba matanya menatapku dengan sangat tajam, benar-benar tatapan yang sangat mengejutkan. Kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya, ya, aku dengan sangat pasrah bahkan terlalu pasrah hanya bisa menundukkan kepala sembari berharap tatapan matanya menjauhiku. Dan selanjutnya yang kulakukan hanyalah menjauh lagi dari pandangannya karena tak sanggup merasakan degupan jantung yang bergerak terlalu cepat ketika mencoba memikirkannya. Selamat lelaki pengecut, kamu telah memenangkan tiket menuju kesendirian untuk yang kesekiankalinya.
Setelah kejadian itu aku hanya terus-menerus memikirkannya, mencoba mengingat-ingat bagaimana tenangnya jiwaku ini saat berhasil mencuri-curi pandang keindahan parasnya. Sambil berusaha menghibur diriku sendiri yang telah menyerah pada keadaan. Tapi saat kucoba melakukannya selalu saja muncul rasa bersalah, rasa bersalah karena telah mengganggu ketenangannya. Aku yakin pasti saat itu dia sangat merasa tak nyaman dengan berbagai gerak-gerikku yang sangat menyebalkan, ingin mencoba untuk memulai perbincangan tapi tak berani hanya untuk mendekat. Dan tentunya hanya mengandalkan sepasang mata ini untuk melihat cantiknya paras gadis itu. Sungguh suatu tindakan yang sangat menyebalkan, sangat payah untuk mengaplikasikan cinta yang muncul dari hati yang terdalam. Kenapa saat itu aku tak langsung menunjukkan keberanian dan kenekadanku seperti biasanya. Kesempatan ada di depan mata, aku berusaha untuk melangkahkan kakiku mencoba mendekatinya tapi saat mata kami saling bertatapan dengan begitu mudahnya aku menghindar. Kenapa baru sekarang aku menganggap rasa malu ini menghambatku, kenapa tidak dari dulu kupendam semua kekurangan-kekurangan yang menghalangiku untuk merasakan indahnya cinta.
Berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu setelah 14 September 2003, aku seperti kehilangan kepercayaan akan diriku sendiri. Di dalam hati aku mengatakan akan terus berusaha menggapai cinta tapi kenyataannya aku sama sekali tak melakukan apapun. Saat berpapasan dengannya, otakku sebenarnya telah mengeluarkan perintah untuk sekedar mengatakan kalimat singkat, seperti “halo” atau “hai” tapi hatiku ini mencegah untuk mengeluarkan apapun dari mulutku. Bahkan dengan begitu tenang dan sigapnya aku langsung memalingkan wajah dan tubuhku, berusaha untuk tak melihatnya dan berusaha untuk tak dia lihat. Padahal dia tetap masih bisa melihatku. Sungguh kelakuan yang sangat memalukan, sama sekali tak menunjukkan keseriusan untuk menggapai apa yang disebut dengan cinta. Dan anehnya lagi saat itu aku sama sekali tak merasakan keganjilan, kuanggap yang kulakukan itu adalah yang paling benar, sama sekali tak ada keraguan saat melakukannya. Justru setelah dia berjalan melewatiku baru aku merasa ada yang salah denganku, dengan kelakuanku, dengan semua yang ada di diriku. Memang terlihat sangat aneh, jika kita memiliki ketertarikan pada seorang gadis seharusnya dengan usaha apapun kita dekati dia dan berusaha menunjukkan segala talenta yang kita miliki. Tapi yang kulakukan justru menjauh dari gadis impianku lalu apakah aku telah salah jalur? Mungkinkah aku terjebak di antara dua pilihan, memenangkan hatiku atau justru mengalahkan hatiku dan memilih untuk diam kemudian menyerah?
Saat semuanya mulai merasakan keraguan terhadap perasaan yang kumiliki, akhirnya aku sampai pada suatu titik yang mengharuskanku untuk menjadi lelaki yang benar-benar berani mengakui cintanya. Mengakui betapa cinta telah mengubah diriku menjadi pengecut seperti ini, mengakui bahwa selama ini aku telah sangat salah memperlakukan cinta. Dan tentu saja aku sangat ingin berubah, berubah menjadi lelaki yang sangat menghargai waktu yang tersisa dengan mencoba kembali mendekatinya dan berusaha menggerakkan mulutku untuk mengatakan beberapa kalimat tentang perasaanku padanya. Lalu kurangkai lagi semuanya dari awal, semuanya kuusahakan untuk berubah. Kucoba lagi merangkai kalimat-kalimat untuk memulai pembicaraan dengannya dengan sedikit kata-kata indah kugabungkan dengan kalimat-kalimat biasa, kuharap aku mampu mengatakan semua yang kutulis ini saat bertemu dengannya.
Pagi harinya kumulai dengan senyuman yang kulancarkan untuk sebuah foto yang terpampang di sudut kiri pintu kamarku (foto Sari bersama teman-temannya), foto yang kudapatkan dari seorang teman yang cukup peduli akan perasaanku pada gadis itu. Lalu kumulai perjuanganku yang baru, perjuangan yang kuharapkan lebih dari yang dulu, lebih berani, lebih bernafsu, dan lebih nekad.
Pukul 06.15, aku berangkat dari rumah dengan motorku. Di daerah sekitar rumah Sari aku menghentikan motorku sembari berharap bertemu dengannya dan tentu saja mengajaknya untuk berangkat bersamaku. 15 menit waktu hilang untuk menunggunya tapi tetap kutunggu sampai akhirnya dia muncul berboncengan dengan Ibunya. Saat itu aku sempat berpikir apa yang harus kulakukan, apakah aku harus tetap menyapanya, apakah sopan jika aku mendekatinya saat itu juga. Lalu aku langsung memacu motorku mendekatinya tapi tetap dengan sedikit jarak. Saat kudekati ternyata jantungku lagi-lagi berdegup terlalu cepat, sangat cepat hingga aku bisa merasakan keringat mengucur di daerah dadaku. Dan langsung saja kukurangi kecepatan, saat itu juga kubatalkan rencanaku dan hanya menatapnya saja yang kulakukan. Menatapnya dan meresapi betapa cantiknya gadis ini, sangat cantik hingga membuatku hanya diam terpana menatapnya tanpa bisa mengeluarkan apapun dari mulutku ataupun menggerakkan pikiranku untuk sedikit melakukan hal yang masuk akal dan bukan hanya diam seperti banci.
Perasaan dalam hatiku ini semakin tak karuan, sepertinya aku ingin melakukan sesuatu tapi aku tak benar-benar mengetahui apa yang kuinginkan itu. Selama mengikuti pelajaran, aku tak bisa memfokuskan pikiranku walaupun hanya untuk satu detik saja. Hari itu terasa sangat sulit bagiku dan yang lebih membuatku tak merasakan kenyamanan lagi adalah sudah sangat lama sejak kejadian 14 September itu aku benar-benar kehilangan semuanya. Saat kubuka kembali jurnal yang selalu kuisi dengan kalimat-kalimat yang merefleksikan perasaanku, aku menemukan diriku berada dalam puncak kebimbangan. Sama sekali tak bisa kutemukan rangkaian kata-kata yang tepat untuk mengisi jurnal itu, yang bisa kutuliskan hanyalah kalimat-kalimat yang keputusasaan bercampur dengan kemarahan akan diriku sendiri. Kenapa aku terlalu mendramatisir keadaan ini, bukankah untuk menggapainya aku harus menjadi lelaki yang tahan banting. Kemudian kututup jurnal ini dan kukatakan dengan penuh keyakinan bahwa saat ini aku sama sekali tak membutuhkan penyesalan akan apapun. Kalimat-kalimat itu tak akan membantuku justru bisa membuatku jatuh semakin dalam.
15 Oktober 2003, nekad, kata itu sungguh sangat mendefinisikan kelakuanku saat itu. Dengan sangat tak wajar dan tanpa rencana apapun sebelumnya, aku tunggu dia keluar dari laboratorium fisika di sudut kiri belakang gedung sekolah. Jam di ponselku menunjukkan waktu 15.20, kunyalakan sebatang Marlboro sambil tidur-tiduran di atas kursi panjang tepat di belakang laboratorium fisika. Saat hisapan yang kesekiankalinya hingga batang rokok tinggal tersisa setengah tiba-tiba Sari muncul dan berjalan tepat di depanku. Langsung kusentakkan badanku untuk bangun dari kursi ini dan kubuang rokok itu. Melihat yang kulakukan, Sari mendadak kaget dan tak tahu harus melakukan apa, dia pun akhirnya hanya diam berdiri di hadapanku. Kira-kira sekitar 5 detik kami berdua hanya diam tanpa ada yang mampu menggerakkan mulut untuk sekedar mengucapkan salam atau apapun. Lalu kupecah kebuntuan ini dengan mengatakan sesuatu yang sebenarnya sangat tak perlu, “Eh Sar, kamu laper nggak?” Betapa bodohnya lelaki ini, apa maksud kalimat itu, tanpa hubungan apapun bahkan sekedar teman pun bukan dengan begitu mudahnya mengajak untuk makan bersama. Setelah mendengar apa yang kukatakan Sari tetap diam, aku yakin dia sangat kaget dengan apa yang kukatakan. Memang aku juga merasa kalau aku sangat bodoh dan sangat konyol, aku lebih baik diam jika hanya mengatakan kalimat yang benar-benar kasar dan sama sekali tak ada artinya seperti itu. Dengan sigap pula, langsung kusisipkan lagi satu kalimat pertanyaan untuknya, “Sar, kamu tahu nggak Dhita di mana?” Tanpa terdiam terlalu lama dia langsung bergegas pergi menunjukkan arah di mana Dhita berada sambil mengucapkan sepotong kalimat yang mungkin terlalu simpel, “Nih, Dhita di sini!” Aku pun langsung bergegas mendekati arah yang dia tuju.
Tampaknya takdir masih mendukungku dan keberuntungan masih menghinggapiku, tiba-tiba saja dengan begitu mudahnya ide muncul. Langsung saja kukatakan apa yang ada di pikiranku, satu kalimat yang tampaknya terlalu dipaksakan, “Eh, Dhita kamu laper nggak, ayo makan bareng sama aku sekalian ajak Sari!” Tentu saja seorang Dhita tak akan menolak ajakan untuk makan, apalagi makan gratis. Benar saja apa yang kupikirkan, Dhita dengan sangat tenang mengatakan kalau dia setuju dengan ajakanku, “Ok!” Saat kami bertiga mulai melangkahkan kaki menuju tempat makan yang kami tuju, muncul seorang lagi teman Sari dari belakang, Ririn, sambil berkata, “Eh, aku ikut dong!” Tentu saja aku tak akan mungkin menolak permintaannya, lalu kukatakan, “Ya, bolehlah, yo, berangkat!”
Dalam perjalanan menuju sebuah warung makan di belakang sekolah, aku dan Sari berjalan berdampingan tepat di belakang Dhita dan Ririn. Wow, saat itu aku sangat merasakan kecemasan yang luar biasa akut, otakku sangat tak membantu. Dan yang lebih aneh lagi, aku juga merasa kalau udara di sekitarku tiba-tiba menjadi sangat panas. Aku benar-benar merasa sangat kegerahan apalagi badanku tertutup oleh sweter yang cukup tebal. Apa boleh buat, langsung saja kunyalakan satu batang Marlboro lagi, sembari berharap satu rokok ini dapat menenangkanku dan tentunya dapat membantu untuk menggerakkan mulutku yang dari tadi tak mampu memunculkan kalimat apapun.
Tag :
Makna Cinta
0 Komentar untuk "cinta itu merelakan tapi tak melupakan"